PEMIMPIN YANG MELAYANI
(Kej 37:3-4,43,45-46; Mat 21: 33 – 43, 45 - 46)
“Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru” (Mat 21: 42)
Ada dua model kepemimpinan yang digambarkan oleh Injil hari ini, yaitu
kepemimpinan yang mengacu pada duniawi dan kepemimpinan yang mengacu
pada rohani.
Penggarap-penggarap
kebun anggur dalam perumpamaan ini menggambarkan kepemimpinan yang
orientasinya duniawi, dengan karakteristik menghalalkan segala cara demi
keuntungan pribadi, sehingga kalau perlu membunuh orang-pun dihalalkan.
Kepemimpinan model ini terjadi disebabkan oleh salahnya pelaksanaan
pendidikan dalam keluarga, sekolah, dan lingkungan yang orientasinya
pada kecerdasan intelektual yang diarahkan pada mengejar kelulusan
ulangan dan ujian. Kecenderungan itu mudah menggoda kehahusan akan
sukses lahiriah atau material, seperti karier, jabatan, kekuasaan, dan
uang, serta pola berpikirnya cenderung ke arah materialistis,
konsumeristis, dan hedonistis.
Dalam
Ef.2:20, dikatakan bahwa “umat Allah dibangun di atas para rasul dan
para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru”. Dengan demikian,
dalam perumpamaan Injil hari ini, “batu yang dibuang oleh tukang-tukang
bangunan telah menjadi batu penjuru” adalah Yesus Kristus sendiri.
Kepemimpinan Yesus mengacu pada rohani, yaitu kepemimpinan yang melayani
dan bukan untuk dilayani. (bdk.Mat. 20: 28). Kepemimpinan yang melayani
selalu berfokus kepada pihak yang dilayani agar mereka sejahtera dan
bahagia, sehingga pelayanannya mendatangkan Kerajaan Allah yang
benar, adil, damai, dan suka cita. Kepemimpinan model ini perlu dilatih
sedini mungkin dalam pendidikan keluarga, sekolah, dan lingkungan yang
orientasinya pada kecerdasan holistik, yaitu ada keseimbangan
perkembangan fisik, mental, emosional, dan spiritual seorang pribadi.
Pola pendidikannya ke arah berpikir logis, kritis analitis, kreatif,
inovatif, bersikap empatik kepada sesama, dan ditajamkan kecerdasan
spiritualnya, seperti nilai kejujuran, keadilan, kebajikan, kebersamaan,
kesetiakawanan sosial, persahabatan, saling menghargai. Jika hal-hal
tersebut dilatihkan, pada saatnya akan muncul pemimpin-pemimpin yang
melayani seperti Sang Guru Sejati, yaitu Yesus.
Pertanyaan reflektif:
Pemimpin yang melayani tidak dapat turun dari langit begitu saja.
Namun, mereka harus dilatih, dikader sedini mungkin. Upaya-upaya apa
saja yang memungkinkan tampilnya pemimpin masyarakat, negara, dan Gereja
yang melayani demi kepentingan umum.
Doa:
Allah Bapa yang Mahabaik, masyarakat, negara, dan Gereja Indonesia
sangat mendambakan hadirnya tokoh pemimpin yang melayani. Kami mohon
agar Engkau berkenan memilih dan membimbing mereka sehingga hadir sosok
pemimpin yang teguh dalam niat dan tindakan untuk melayani demi
kesejahteraan dan kebahagiaan umat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar